Bagaimana Jakarta?

Seperti yang kalian ketahui, minggu kemarin aku pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Hanum, yang sekarang bisa kalian katakan sebagai pacarku... hahaha... jadi malu :)

Akan tetapi, perjuanganku untuk bertemu dengan Hanum tidak semudah yang kalian kira. Bahkan, aku harus bekerja terlebih dahulu... Kan malu kalau ketahuan belum punya pekerjaan~ Hahaha

Kawan-kawan, perjalananku merebut hati Hanum bisa kuceritakan di lain waktu, karena sekarang ada hal yang lebih penting harus ku beritahu kepada kalian semua.

Terlebih dahulu, aku ingin mengingatkan kepada kalian untuk berhati-hati jika mendapatkan sebuah berita di media sosial manapun.

Apa Asal Usulnya?

Aku ingin menceritakan pekerjaanku saat aku berada di Jakarta. Jujur, aku cukup terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan sebuah pekerjaan kepadaku. Pada dasarnya, aku masih menyelesaikan skripsiku. Belum saja tamat kuliah, tetapi sudah ada saja seseorang yang menawarkan pekerjaan. Jujur aku cukup rancu akan hal ini, tetapi tetap kuterima pekerjaan tersebut. Saat aku sampai di alamat kantor yang diberikan oleh orang tersebut, aku terkejut melihat betapa kecil dan kumuhnya kantor itu. Ketika aku ingin menanyakan keberadaan orang yang mempekerjakanku pun, aku dibawa ke dalam “kantor” itu secara sembunyi-sembunyi. Seakan-akan pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang menentang undang-undang. Seakan-akan pekerjaan tersebut adalah sebuah berdagang di pasar gelap. Di dalam "kantor" tersebut, aku melihat banyak sekali komputer berderet. “Sungguh tampak seperti warnet” adalah kalimat yang langsung muncul di benakku saat pertama kali ku injakkan kakiku di tempat itu.

Pria yang menawarkan kerja kepadaku itu dengan logat bataknya memberi tahu pekerjaanku yang sebenarnya. Katanya, aku akan bekerja sebagai buzzer, dan aku (bersama rekan-rekanku) ditugaskan untuk meramaikan seorang politikus bernama Arief Cahyadi di sosial media twitter. Tahukah aku tentangnya? Tidak. Tahukah aku bagaimana cara meramaikannya? Tidak. Percayakah aku bahwa kantor sekecil dan sekotor itu dapat merubah reputasi seseorang? Tidak. Akan tetapi, semua pemikiranku ini salah. Ternyata, hanya dengan bermodal komputer dan internet, seorang politikus bernama Arief Cahyadi dapat menjadi sangat terkenal, sampai orang-orang pun mencalonkan dirinya sebagai gubernur DKI Jakarta. Kawan-kawan semua tahu kan dari berita yang beredar sekitar satu minggu yang lalu?

Mengapa Harus Berhati-hati?

Sekarang langsung masuk ke inti blog ini. Sebenarnya apa sih yang aku ingin ceritakan ke kawan-kawan semua? Hal penting apa sih yang ingin aku beritahu ke kawan-kawan? Jujur, hal yang mendorongku untuk membuat tulisan ini di blogku adalah rasa cemas. Rasa cemasku kepada kawan-kawan yang selalu menggunakan waktu kalian untuk sekedar melihat timeline di twitter, maupun men-tweet dan mention teman-teman online kalian.

Aku sempat bekerja sebagai seorang buzzer, jadi tentunya aku tau ada apa yang terjadi di media sosial ini, terutama twitter. Sesungguhnya, banyak sekali orang-orang yang mencari nafkah dengan membuat sedemikian banyak akun-akun twitter untuk meramaikan sebuah isu di media sosial tersebut. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku tidak mengetahui siapa itu Arief Cahyadi, tapi aku pun dipaksa (dan berhasil) untuk meramaikan isu-isu positif tentangnya, dan aku hanyalah salah satu dari sedemikian banyak orang yang bekerja tetap sebagai buzzer. Sekarang, timbullah pertanyaan, “Bagaimana aku mendapatkan gaji dengan hanya bermain twitter setiap saat?”, tentunya meramaikan seseorang dengan bantuan sekelompok buzzers tidak gratis. Ada seseorang yang membayar kami untuk meningkatkan reputasi mereka. Sungguh pekerjaan ini memang mirip sekali dengan kasus suap-menyuap di politik dan menjual barang-barang liar di pasar gelap. Menjijikan. Baik pekerjaan itu, maupun diriku yang mau melaksanakan pekerjaan tersebut.
Mungkin kawan-kawan akan berpikir bahwa hal ini adalah hal sepele, karena pada dasarnya, aku meningkatkan reputasi orang, dan hal ini mungkin bisa dianggap cukup “mulia”. Akan tetapi, hal yang mencemaskanku adalah bagaimana jika ada seseorang yang ingin menjatuhkan reputasi seseorang dengan menyewa seorang buzzer? Contohnya, bagaimana jika Arief Cahyadi ingin menjatuhkan reputasi lawannya melalui kami? Tentunya hanya ada satu cara bagi para buzzer untuk melakukan hal ini, yakni untuk menyebarkan berita-berita negatif, termasuk hoax. Aku ulangi, termasuk hoax untuk membuat orang-orang membenci orang tersebut. Akankah orang-orang percaya dengan hoax-hoax tersebut? Tentu saja iya. Mengapa? Karena buzzer-buzzer ini tidak hanya mempunyai satu akun. Bukan puluhan, melainkan ratusan, mungkin ribuan. Akun-akun ini akan membicarakan hoax yang sama. Mereka akan menyetujui, me-retweet tweet yang menyetujui hoax-hoax itu, dan bahkan membuat hashtag mengenai hoax tersebut. Apabila mereka terus menekuni pekerjaan mereka ini, bisa-bisa hastag tentang hoax tersebut yang mereka buat akan menjadi trending topic dan bahkan mengakibatkan orang-orang yang bukan salah satu dari buzzers ini membicarakan hoax ini dan membenci orang tersebut. Sama seperti yang terjadi ketika timku menyukseskan Arief Cahyadi. Tentunya orang-orang ini bisa saja dituntut, tetapi hal ini tidak menghilangkan kenyataan bahwa reputasi orang yang disasar ini jatuh. Selain itu, kejadian seseorang menuntut buzzers-buzzers ini pun bisa dikatakan sangat jarang.

Apa Harapanku Untuk Kawan-Kawan?

Sekarang, aku harap kawan-kawan mengetahui betapa seramnya berita-berita yang tersebar di sosial media itu. Aku tidak menyuruh kawan-kawan untuk berhenti bermain twitter atau sosial media lainnya, karena aku pun pasti tidak akan bisa melakukannya. Berikut ini adalah harapanku untuk kawan-kawan setelah membaca tulisan ini.

Pertama, aku ingin kawan-kawan untuk memeriksa sumber berita yang kalian ketahui terlebih dahulu sebelum melompat ke kesimpulan dan mempercayai berita tersebut. Pada dasarnya, berita-berita bohong ini bermula dari para akun buzzers di sosial media. Hoax-hoax ini adalah berita bohong yang mereka buat, tidak mempunyai asal, dan tidak bersumber dari berita resmi manapun. Berita resmi memang terkadang mengandung bias, tetapi paling tidak mereka sudah dilatih untuk tidak membuat sebuah berita yang tidak berasal. Jadi, apabila kalian mendapat sebuah berita, yakinlah bahwa berita tersebut tidak berasal dari akun-akun buzzer, melainkan sebuah berita resmi.

Selain itu, aku harap kawan-kawan tidak akan mudah termakan opini-opini mayoritas. Pada dasarnya, buzzer-buzzer dibuat untuk membuat mayoritas mendiskusikan sesuatu isu dengan cara mengharapkan bahwa akun-akun masyarakat selain para buzzers pun akan mendiskusikan isu tersebut karena mereka. Saya ingin kawan-kawan sadar bahwa sebenarnya berita-berita yang tertera di media sosial tidak sepenuhnya benar, walaupun berita tersebut sedang ramai didiskusikan oleh banyak orang. Sebaliknya, berita yang tidak panas diperdebatkan oleh orang-orang pun tidak membuktikan bahwa berita tersebut palsu.


Mungkin ini saja yang bisa aku bagi dengan kawan-kawan. Semoga hal-hal tersebut bermanfaat bagi kalian. Mungkin kalian ragu akan kebenaran fakta-fakta yang aku tulis ini, tetapi keputusan kalian mau menerima atau menolaknya ada di tangan kalian. Sampai jumpa di tulisan baruku lagi!

Comments